Pagi itu, aku sangat berbahagia walaupun aku bangun jam sembilan, tapi kepalaku terasa ringan, walaupun beralasakan kardus – kardus, berbantal karun serta bersilimut debu – debu tetapi malam terasa terlewati dengan penuh lelap. Ya, seperti itulah tempat tinggalku bersama teman – teman di salahsatu lembaga kemahasiswaan. Beberapa temanku yang tinggal sudah terbiasa dengan kondisi ini, adapun teman – teman yang baru masih beradaptasi dengan ekosisitemnya. “nikmati saja, nanti akan terbiasa sendiri” begitu kataku saat mereka mulai mengeluh atas kekalahannya dengan nyamuk – nyamuk. Kalimat itu merupakan warisan dari seniorku yang terucap pada pertama- pertama aku tinggal. Aku harus meninggalkan mereka, pikirku. Entah kapan yang jelas setelah urusanku disini sudah selesai. Beberapa teman – temanku masih terlelap setelah kemarin begadang menonton film bioskop yang di putar disalah satu tv swasta. “Ada yang belum salat subuh”. Teriak salahsatu temanku yang baru bangun. Ya sudah tadi, jawab yang lain dengan suarah yang tidak jelas. Sudah menjadi tradisi disini orang saling membangunkan salat subuh walaupun dia sendiri tidak melakukannya. Makllum sekedar basa – basi untuk gantikan tidur di kasur yang empuk.
Ditempat ini juga aku temukan berbagai pengalaman menarik mulai dari hal – hal yang aneh – aneh sampai sesuatu yang tidak masuk akal, ya disinilah aku menemukan orang dengan suara tampa basi –basi menanyakan tentang dimana tuhan. Pertanyaan yang selama ini sangat sakral untuk di ungkapkan. Jangankan mau menanyakan kepada orang pintar memikirkan saja kita sudah dicap kafir oleh kelompok tertentu. Bukan saja pertanyaan aneh – aneh. Disini juga aku temukan orang yang berani berfikir kritis terhadap realita, ah sungguh hebat to. Entahlah yang jelas aku mau bilang disini ketemukan banyak orang baik dan banyak juga orang yang berpura – pura baik.
Tidak terasa aku berada kembali di pertengahan hari, dari pagi hanya kuhabiskan waktu di depan computer, main game sambil tulis – tulis cerita. Beberapa teman sudah mulai terbangun yang melanjutkan tidurnya dari tadi pagi. Sungguh terlalu…, kataku sambil mengejeknya. Sambil mereka berlomba – lomba cari peralatan mandi untuk antri bersama teman – teman lembaga kemahasiswaan yang lain. Ya mau diapalagi diantara tiga kamar mandi disini hanya satu yang baik, maaf, baik dalam arti kebiasaan kami menerima kondisi ini. Beberapa teman – teman yang memiliki giliran mandi belakangan sedang sibuk membaca Koran local. Biar di bilang intelektual, walaupun berita yang mereka baca tidak lepas dari halaman belakang yang berisi gossip beberapa selebritis yang kawin cerai. Bersambung……………….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar